Langsung ke isi

coretan dini hari

Maret 16, 2010

  Gelombang air laut itupun kembali tenang,pohon-pohonpun berhenti menari,suasana begitu tenang,seakan segala yang ada di daratan  pulau kecil ini ingin diam,dan membisu,sebenarnya memang enggan untuk bersuara,karena yang keluar terdengar adalah hanya goresan kelelahan,gumpalan-gumpalan awan di angkasa seolah tak lagi menghiraukan anak-anak angin yang berteriak mendorongnya untuk segera melaju,semuanya enggan dan bahkan mentaripun malas untuk menyembul dari tirai kabut dan awan hitam.

Kutengok wajah pucatku,aku merasakan kehangatan di pipiku yang sejak tadi menahan gamparan angin nakal,berusaha untuk bersabar sambil menyaksikan bangunan-bangunan kepercayaan itu merotol sedikit demi sedikit,anganku berimaginasi,dan naluriku bertanya,”Kapankah bangunan yang terbangun kokoh itu akan roboh keseluruhan?”
Seperti arca berkepala milikku berdiri diantara tumpukan-tumpukan kartoon ,dan sebuah jendela yang terungkap sedikit daunya ,tak bergeming dengan tatapan yang tak jelas kemana arahnya,yang jelas begitu jauh dan dalam,kearah dimana di sebuah daratan dan lautan yang telah menenggelamkan impian yang kini telah porak poranda karena kebengisan waktu dan kekejaman nalar.Dulu telah aku bangun sebuah rumah dengan pilar-pilar kasih ,tak kuhiraukan letih dan remuknya raga,dengan semangat meskipun tertatih setengah terkapar kubangun atap-atapnya dengan ribuan kepercayaan,kusulami dinding-dinding yang bolong karena kikisan celaan,kerasnya hati akan sebuah keinginan menjadi sebuah pondasi yang kokoh telah terprediksi tak akan roboh meskipun rongrongan tikus jail yang tak henti membuat lubang dengan berita-berita yang sering mengejutkan,hujan air mata sering mengguyur dan membasahi namun sinar mentari yang penuh dengan penjelasan-penjelasan membuatnya hangat dan ke esokan harinya buliran embun cinta menghiasi seperti butiran-butiran mutiara yang baru di temukan dari cangkang kerang,murni dan indah berkilau,sungguh rumah yang belum sepenuhnya terbangun itu begitu asri dan menyejukan pikiran,berbondong-bondong di sela-sela kesibukan ku rajut sedikit demi sedikit rencana akan bagaimana rumahku itu kelak ,agar nyaman di huni,ramai akan gelak tawa dan jeritan tangis,obrolan dan perdebatan yang kesemuanya menuju kesebuah kebaikan.
Aku sepenuhnya tahu,bahwa badai mungkin akan segera datang dan berusaha untuk menggoyahkan bangunanku,namun aku telah bertekad untuk mempertahankanya dengan sisa nafas terakhir sekalipun,namun aku tak akan mengelak dari kemampuanku,jika Yang Kuasa meminta balik bangunanku,mungkin banyak kesalahan atas caraku membangun,mungkin tidak pantas karena aku tak mampu menjaganya.Kerasnya tekad semakin membuat pertahananku melemah,karena tak kusadari atap-atap kepercayaan itu ternyata terkikis oleh angin yang tak bertoleransi,angin itu menginjak-nginjak atap itu sampai kerap retak,sudha kusulami dengan kesabaran namun dibagian sini bisa tertutup ,angin itu menginjak bagian yang laen,dan meretakan kekuatan atap utama,disaat aku mulai lelah,aku hanya bisa berpura-pura,bahwa rumahku masih tetap nyaman,meskipun tak sempurna indah,aku katakan pada penglihatanku ,bahwa rumah itu masih indah dan sangat nyaman ,kututup pedih yang yang terus merembes keluar melalui pori-pori dinding,dengan rekahan-rekahan senyum agar kejelekan yang tampak itu tertutup oleh harumnya senyum,terus berusaha untuk membangun agar rumah itu berdiri dan semain tak sanggup untuk menanti penghuni baru itu akan menempatinya dengan penuh kegembiraan dan kebahagiaan.
Disatu sisi,kepedihan itu semakin deras bukan merembes tapi sudah mulai mengalir,aku tak tahu apa yang harus  kulakukan unntuk membuat kepedihan itu berhenti,aku melihat sesuatu yang aneh telah mewarnai lingkungan,meskipun aku belum buta meskipun aku melihat dengan jelas keanehan itu,aku lebih memilih membutakan penglihatanku,hanya bersama doa-doa dan berharap para malaikat membantuku untuk merantai amarahku yang mungkin bisa sekali waktu meletus dan lebih cepat menghancurkan rumah impianku,betapa sengsaranya,harus menahan lebih dari dua kekuatan yang hendak menggerogoti pertahananku,tak boleh menyerah!hanya itu penguat semangat yang setia menemani hidup,perjalanan belum usai,mungkin satu hal yang harus disadari,bahwa rumah impianku itu adalah tak berarti apa-apa,dan sebenarnya tak layak untuk di tinggali oleh orang yang kusebut “Kekasih”.Memaksa aku  untuk membuka lebar-lebar daun jendela kebohongan,bahwa sebenarnya rumah jerami penuh kekonyolan itu tak pantas untuk di diami,sementara rumah yang laen yang lebih megah lebih indah lebih membahagiakan terbuka begitu lebar dan sedang menunggunya untuk memberikan segala yang di namakan kebahagiaan.

    Kini kupandangi bangunan yang entah kapan akan runtuhnya dengan total,jerih payah,semangat dan rasa itu mencambuki dada seolah tak mengijinkan pernafasan berlangsung,begitu sesak dan siap mematikan,bersabar mencoba berjalan beriringan dengan doa yang mulai keletihan,sementara kebodohan menjejali aku dengan garangnya,hiyaa..semoga kedodolan ini membawa pelayaranku menuju surga.
Jika memang aku harus mengembalikan rumah impianku kepada Yang Maha Punya,aku akan dengan senang hati dan iklas mengembalikannya,dan mungkin pengembaraan adalah jalanku yang cocok,sehingga aku harus melanjutkan pengembaraanku,dari negeri  ke negeri,dan mungkin itulah kebahagiaanku….

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.