Langsung ke isi

siapkah aku..

Maret 14, 2010
tags:

Berawal dari gelap malam akhirnya perjalannya ini berawal,lupakan apa yang di maksud dengan letih,belum tentu dengan letih itu aku akan segera mengakhiri nafas ini.Yeaahh hanya berbekal dengan nafas yang masih dengan senangnya mengiringi aku menatap gelap malam dan  sunyinya ruangan,tak satupun sapaan dari apapun juga,semua bag telah mengerti bahwa yang ku impikan adalah diam,dan mereka, apapun yang mengisi alam inipun telah mengerti dengan apa yang ku mau,thanks God,itu lah satu-satunya kata yang keluar dari relung tenggorokan yang sejak entah sekian jam-nya tercekat,dan tak ku pungkiri terasa teramat sangat pahit,lanjutkan!perintah naluriku…

     Bahasa apa yang harus kupergunakan untuk mempermudah otakku mencerna ungkapan perasaan yang telah hamper meledak,hal yang selama  ini harus terbungkam karena alasan “Redam amarahmu,maka kamu akan menjadi manusia yang baek”..God…sekali lagi aku harus bersujud di bawah kakimu untuk memohon kekuatan extra,aku tahu seberapa kekuatanku untuk menahan rasa yang berkecamuk di dalam dada sana.Aku bisa namun jika harus di tempa terus menerus aku teramat takut aku akan melupakan apa yang Engkau perintahkan,sungguh sempurna apa yang aku dapatkan,begitu indah jika tidak di campur dengan amarah;

   Coba tengok pada pinggiran trotoar ,seorang perempuan dengan menggendong bayinya ,diantara kerumunan orang-orang,dengan wajah memelas mengatungkan telapak tangannya memohon belas kasihan orang-orang yang lewat untuk sekedar memberinya sepeser uang ,entah kemana lagi impiannya ,yang aku yakin pasti pada buah hati di dadanya,berharap akan si kecil itu berubah menjadi tak sekedar kupu-kupu,lalu bagaimana dengan bapak dari bayi itu kemana?kenapa rela membiarkan separoh jiwanya dan buah hatinya mengais sesuatu,demi apa?survive atau mimpi?
Hidup tak segampang dengan apa yang dibayangkan,berbagai pertanyaan,berkecamuk dalam otakku,tatkala melihat sosok perempuan itu,mulai dari :kenapa dia melakukan hal itu.Bukankah dia masih memiliki suami yang bisa mencarikan nafkah bwat mereka,atau suaminya tak mampu bekerja lagi,atau apakah dia korban dari perselingkuhan,atau korban dari kebiadapan laki-laki,atau ..atau… seribu satu atau…

Tak dapat ku menemukan jawabanya,berfikir ulang kepada diriku sendiri”Seandainya perempuan itu adalah aku?”instantly mumet kepalaku,bukankah aku masih teramat sangat beruntung,dengan apa yang aku lakukan dan aku dapatkan,aku tak harus mengemis di pinggiran trotoar,dan aku tak harus mengemis apapun dari manusia,kecuali aku harus seperti pengemis mengais ridho dari Yang Kuasa.
    Ku coba untuk mencari sebuah jawaban dari kisah-kisah yang telah terjadi selama ini,pelajaran apa saja yang kudapatkan? kenapa aku seperti tak mendapatkan apa-apa? kenapa kisah-kisah itu mempunyai hasil akhir yang sama?aku harus bertanya pada nasibkah? atau pada takdirkah?
Setiap detiknya aku tak henti berfikir betapa bodohnya aku.
    aarrgghh….gada jawaban kecuali sesak di dada yang semakin  membuat sulit bernafas..

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.