Langsung ke isi

Simpan Jejerit itu

Februari 23, 2010

 Dan bahkan mulutkupun tak tahu harus bilang apa.,jari-jarikupun enggan untuk bergerak menulis sesuatu,pandanganku juga menyerah,cuma sebersit keinginan untuk tetap berdiri dan melanjutkan hidup yang masih rela menemaniku ,otaku seakan tak ingin bekerja,namun kepingan hatiku mengharuskanya untuk tetap menahannya dari kekosongan.

Sejauh keinginan yang sedang memberontak adalah mengeluarkan segala yang membebani dada,amarah itu terus bergolak seolah ingin memporak porandakan dada dan seperti api yang hendak membakar diriku terusmenerus menggempur pertahananku,rasa asin dan aneh dari bibirku yang berdarah karena gigitan bibirku menyadarkan aku bahwa aku  tidak sedang bermimpi,namun aku sangat berharap bahwa aku sedang bermimpi,namun kenapa setiap aku berharap kenyataan itu terus meyakinkanku,”Aku tidak sedang bermimpi”.Perih yang teramat sangat yang aku rasakan,dari bibir dan dari dalam dada sana,beratus kali kutarik nafas dalam-dalam untuk menahan gelora yang sedang mengamuk di dalam sana,lelehan amarah yang menggumpal beberapa saat ini,telah mencair membasahi wajah,yang sejak tadi berulah blo`on dan teramat sangat bodoh.

Saking bodohnya sampai tak tahu mesti gimana,mau apa,benar-benar spechless,benar-benar socked ,dan benar-benar membekukan seluruh raga ,menjadikan aku teramat sangat bodohnya,melebihi keledai,hanya hidungku saja yang kembang kempis,menahan isak dan ingus,detik kemudian kepala seperti di hammer dengan kekuatan maha tinggi,yang membuat keseimbanganku seperti linglung,benar-benar berharap itu hanya sekedar mimpi bukan kenyataan.Mulut tak hentinya beristighfar dan doa akan ketegaran serta kesabaran,namun amarah itu begitu besar dan tak terkendalikan,ingin sekali berteriak atau menghantam apapun yang ada,hingga akhirnya terpaksa menjatuhkan diriku di lantai dingin agar aku bisa menyatu dengan bumi tempatku perpijak,berharap agar  amarah  itu bisa kuredam dan tak perlu dengan sia-sia keluar apalagi di campur cacian,astaghfirulloh….

Kini tatapan kembali ke pekerjaan,namun konsentrasiku buyar dan tak satupun pekerjaan ku kerjakan berhasil dengan baek,terpaksa mempendingkan berkas,betapa berat beban ini kurasakan,kucoba untuk berbincang dengan beberapa teman,berkelakar berharap susana  hatiku tak telalu kaku,dan minimal sedikit menghilangkan gejolak amarahku yang setiap saat bisa memuncak.Bekerja 20 jam tak terasa berat dibandingkan dengan meredam amarah yang hanya beberapa detik saja bergejolak,tubuhku lemas lunglai,dan kemudian rasa berubah menjadi teramat sangat sedih,nelangsa,tak habis fikir dan beribu rasa laenya.Pertanyaan “Kok bisa dan Kok teganya”menjadi eyel-eyelan di kepalaku,dimana aku tak dapat menemukan jawabannya,pada siapa lagi aku harus menaruh”Percaya”?Apa karena aku begitu totolnya sehingga aku tak bisa melakukan hal yang lebih baek,selama ini yang kulakukan hanya membikin capekah?aku sudah berusaha sebaek dan sebisa mungkin untuk membuat sesuatu itu hidup dan berkembang menjadi lebih baek,selelah apapun aku ingin menjaganya,seburuk apapun aku ingin membuatnya berarti,kucoba untuk tidak menengok ke jendela luar yang banyak burung-burung membawa kabar yang tak aku ketahui kebenaranya,kabar-kabar serupa yang selalu tak aku pedulikan,karena aku hanya mempercayai apa yang aku jaga itu benar meskipun kadang hatiku mengakui kebohongan itu adalah nyata,tapi aku tetap mempercayainya dengan cinta.

  Aku hanya bisa  memutuskan untuk bahagia entah itu bagaimana keadaanya,aku hanya ingin apa yang aku jaga selama ini bisa berarti,dan aku merasakan indahnya,namun sayang aku tidak bisa berbuat lebih dari hanya menjaganya dari jauh,sekedar mendengarkan suara,menulis goresan-goresan kangen ,dan mengkhawaterkan jika sedang bepergian,jika sedang berada dalam masalah,keadaan sehari-harinya,selebihnya aku tak mampu melakukan apa-apa kecuali turn melow saat dada mulai dirasuki rasa sesak.Kenyataan aku memang tak bisa berbuat apa-apa.

  Rasa kepura-puraan akan kesenagan,tertawa,dan kembali ke lelucon hanya harapan agar kegembiraan semu yang kulakukan bisa membuat aku bisa tetap dan terus menghadapi hariku,ku tak ingin kegundahanku membuatku semakin terpuruk,bisa meredam amarah yang luar biasa dengan berbagai alasan  kenapa harus marah,itu  sudah merupakan secuil dari kebahagiaanku,kenapa aku harus melanjutkan ke jalan kesedihan,tidak…dulu aku memilihnya dan kini jika harus menghadapi kenyataan seperti itu,bahagia adalah juga pilihanku.Semoga kepura-puraan kegembiraanku menjadi gembira yang sebenarnya,selayaknya tak ada yang harus disedihkan,seperti halnya hidup adalah pilihan,meskipun aku merasa tak bisa menjaga hatiku sendiri,tapi setidaknya aku bisa mengendalikanya dari aliran sakit..Subhaanallah..Ya Allah tolong jaga hatiku

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.